Selalu ada Keindahan meski dalam Kegelapan




  Banyak orang yang menyukai senja di ujung waktu, namun belum tentu semua orang mencintai matahari terbit tatkala pagi menyongsong. Aku selalu terkesima, Maha Kuasa Allah sungguh  tak tertandingi. Allah menciptakan dunia ini dengan sangat sempurna, menciptakan keindahan lukisan langit pada pagi hingga malam. Menderukan dersik angin hingga sampai kepada rumput yang seakan ikut menari penuh gembira. Aku terus bergumam pada diri sendiri, “Allah menciptakan semua, namun mengapa aku tak tersenyum ketika fajar mulai nampak, apa aku ini sangat angkuh padahal yang menciptakan aku saja telah memberikan kenikmatan pada hidup ini?”

Pagi ini aku terus berdialog pada pohon-pohon dan sang surya yang aku nikmati cahayanya. Setelah itu, aku berjalan menyusuri jalan setapak antara petak sawah satu, dengan petak sawah lainnya.  Bahkan ciptaan Allah pun turut ada menghiasi petak sawah. Sekali lagi, aku terkesima.

Dentangan arah jam kini telah beralih, ku tapaki kembali telusur jalan yang masih membiaskan siluet pantulan diri. Tak terasa, setelah bertahun-tahun aku hidup di desaku tercinta ternyata banyak yang berubah dan lagi pula, tanah yang aku tapaki kini berbalut aspal, bukan lagi bebatuan aliran sungai yang dulu sangat alami sekali. Aku merindukan kampungku yang asri seperti dulu.

***

Ternyata alam ini memanglah indah, merenungkan tentang ciptaanNya pun tidak akan pernah ada habisnya. Suatu malam, selepas mengaji, tak sengaja ku lihat gelapnya langit dengan hinggap beberapa bintang diatas cakrawala. Selepasnya, ku saksikan dengan kasat mata, begitu indah komet yang seolah bintang jatuh dihadapan mataku dalam dua detik yang berharga. Hingga pada malam-malam selanjutnya, aku terus memandangi langit malam dan menatap lagi bintang-bintang. Dan itu pertama kalinya aku suka dengan kegelapan malam, udara sejuk juga terasa begitu menusuk relung.

***

Kembali lagi pada masa sekarang, jelas kini rasanya sulit sekali untuk menikmati keindahan gelap ketika malam datang, langit dipenuhi awan dan juga kabut asap pabrik, lampu yang terang benderang sudah terpasang dimana-mana. Lagi pula kini desaku telah berjejer pabrik pengepul asap (hahaha). Belum lagi polusi asap kendaraan yang tak terkendali. Lalu aku masih punya beberapa pertanyaan yang tak bersolusi. Ini salah siapa? Masih bisakah aku bersenggama dengan langit gelap berbintang dan udara yang masih wangi pepohonan seperti kala itu? Bolehkah aku tetap berharap dan meninggikan harapku?




Post a Comment

Cookie Consent
Kami menyajikan Cookie di situs ini untuk menganalisis lalu lintas, mengingat preferensi Anda, dan mengoptimalkan pengalaman Anda.
Oops!
Sepertinya ada yang salah dengan koneksi internet Anda. Silakan sambungkan ke internet dan mulai menjelajah lagi.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.