Pagi ini aku terus berdialog pada pohon-pohon dan sang surya yang aku nikmati cahayanya. Setelah itu, aku berjalan menyusuri jalan setapak antara petak sawah satu, dengan petak sawah lainnya. Bahkan ciptaan Allah pun turut ada menghiasi petak sawah. Sekali lagi, aku terkesima.
Dentangan arah jam kini telah beralih, ku tapaki kembali telusur jalan yang masih membiaskan siluet pantulan diri. Tak terasa, setelah bertahun-tahun aku hidup di desaku tercinta ternyata banyak yang berubah dan lagi pula, tanah yang aku tapaki kini berbalut aspal, bukan lagi bebatuan aliran sungai yang dulu sangat alami sekali. Aku merindukan kampungku yang asri seperti dulu.
***
Ternyata alam ini memanglah indah, merenungkan tentang ciptaanNya pun tidak akan pernah ada habisnya. Suatu malam, selepas mengaji, tak sengaja ku lihat gelapnya langit dengan hinggap beberapa bintang diatas cakrawala. Selepasnya, ku saksikan dengan kasat mata, begitu indah komet yang seolah bintang jatuh dihadapan mataku dalam dua detik yang berharga. Hingga pada malam-malam selanjutnya, aku terus memandangi langit malam dan menatap lagi bintang-bintang. Dan itu pertama kalinya aku suka dengan kegelapan malam, udara sejuk juga terasa begitu menusuk relung.
***
Kembali lagi pada masa sekarang, jelas kini rasanya sulit sekali untuk menikmati keindahan gelap ketika malam datang, langit dipenuhi awan dan juga kabut asap pabrik, lampu yang terang benderang sudah terpasang dimana-mana. Lagi pula kini desaku telah berjejer pabrik pengepul asap (hahaha). Belum lagi polusi asap kendaraan yang tak terkendali. Lalu aku masih punya beberapa pertanyaan yang tak bersolusi. Ini salah siapa? Masih bisakah aku bersenggama dengan langit gelap berbintang dan udara yang masih wangi pepohonan seperti kala itu? Bolehkah aku tetap berharap dan meninggikan harapku?

