Karawang
dan Sungai Citarum Harum
oleh Siti Patimah
Karawang
kota padi, sejuknya terlihat jelas. Tapi itu pada waktu dulu. Sebelum semuanya
berubah menjadi banyaknya tanaman beton-beton raksasa yang sudah mengakar dan
merambat kesemua sektor. Karawangku penuh dengan misteri yang sudah ditumpuk
berabad-abad. Oleh keserakahan orang-orang penguasa yang tidak pernah diam
ketika melihat adanya tempat hijau yang masih terhampar luas dipandangannya.
Mereka
tak segan untuk membayar mahal demi membangun perindustrian yang katanya ‘bisa
memajukan Karawang serta rakyat makmur tanpa harus menanam padi lagi’ yang
nyatanya harga tersebut tidaklah sesuai dengan harga yang seharusnya mereka
bayarkan. Tak sedikit petani yang menolak dengan tegas bahwa sawahnya boleh
dengan segera diganti oleh beton. Namun, apa daya mereka tetap saja terisolir,
praktik politik uang dalam lingkungan jual beli tanah menjadi hal lazim
digunakan untuk mengakali masyarakat yang bersikukuh terhadap lahannya, dan
pada akhirnya masyarakat tetaplah harus tersingkirkan.
Persoalan
lingkungan alam yang ada pada kota Karawang ini memang seakan tidak ada
habisnya. Gunung dikeruk untuk dijadikan jalan dan diambil sumber alamnya tanpa
adanya reboisasi dan pemberdayaan secara tepat, sawah diurug untuk
dijadikan perumahan ‘bebas banjir’, sungai dan tanggul diperkecil untuk
dijadikan ‘rumah makan samping irigasi’ dan juga ‘tempat pembuangan sampah
otomatis’ otomatis, karena sampah akan terbawa aliran air yang nantinya akan
berujung pada penumpukan sampah di beberapa saringan air, dan ini menjadi salah
satu faktor kecil yang sering dianggap sepele. Sehingga jika musim hujan,
barulah sungai meluapkan air dan juga sampah ke pemukiman perumahan yang
katanya ‘bebas banjir’.
Memang
kota ini tumbuh begitu pesat, tak seperti beberapa kota lainnya. Melansir dari
beberapa sumber, bupati Karawang yakni Cellica Nurrachadiana mengatakan jika “Kabupaten
Karawang mengalami pertumbuhan yang cukup pesat baik secara ekonomi, penurunan
angka kemiskinan, dan pembangunan Kabupaten Karawang yang kini menjadi wilayah
yang mandiri.”
“Berbagai macam perubahan dan warna pembangunan yang berada di Karawang merupakan kerja keras dan kolaborasi aktif dari semua elemen. Tanpa peran aktif kita semua dan warga Karawang tidak akan membuat daerah yang kita cintai ini jadi seperti sekarang,” Menurut Bupati, Karawang telah meraih beberapa predikat. Bahkan lima kali secara berturut-turut berprestasi dalam pengelolaan keuangan sehingga mendapatkan predikat opini wajah pengecualian oleh BPK Jawa Barat. Sesuai tema HUT ke 387 Kabupaten Karawang ‘Rempug Jukung Sabilulungan Ngawangun Kota Pangkal Perjuangan.’
Sangat
disayangkan memang dari beberapa pernyataan yang telah disampaikan Bupati
tersebut nyatanya, sampai saat ini masih banyak yang harus terus digalakan guna
menjadikan kota Karawang ini asri. Meski mungkin akan sulit karena kota ini
sudah tumbuh kian pesat menjadi kota Industri yang terkenal dengan UMR
tertinggi ini, yang juga menjadi banyak perbincangan warganet dan sempat
menjadi trending topic di Twitter pertanggal 16 Desember 2020. Tahun
ini, Kabupaten Karawang memiliki upah tertinggi UMK 2021 di Jabar sekaligus Nasional.
Banyak
yang seolah-olah terhipnotis oleh UMR tinggi di Kota ini. Sehingga pribumi asli
lupa bahwa UMR tinggi ini tak akan pernah bisa sebanding dengan penggusuran lahan-lahan,
sawah-sawah yang telah menghijau kemudian di basmi dengan sangat mudahnya
seperti hama. Warga kini sibuk dengan hiruk pikuk kota Industri. Sering saya
saksikan ketika pagi dan sore hari arus lalu lintas sangat padat merayap. Segala jenis kendaraan berlalu
lalang dan tak lupa menklakson di jalanan dengan tujuan agar arus lalu lintas
bisa lancar, yang ternyata malah menambah kebisingan di kota Industri.
Ada
yang tergesa-gesa dengan pekerjaannya, dan urusan lainnya. Saya seolah tak
menghirup udara segar di pagi hari. Asap-asap kendaraan ini seolah menjadi
pasokan oksigen baru buatan manusia, yang setiap hari tidak pernah ada
habisnya. Polusi dimana-mana, sampai menjalar ke perkampungan. PT segala jenis
juga ada, menyebabkan pencemaran air dan limbah kimia yang seenaknya dibuang kehulu
sungai Citarum, dan berdampak buruk pada ekosistem air yang menjadi hitam dan
berbau. Segala jenis ikan pun banyak yang mabuk kepayang saat air berwarna
hitam dengan bau yang menyengat itu. Belum lagi air sungai itu banyak sekali
digunakan warga untuk dikonsumsi dan dipakai keperluan lainnya.
Air merupakan hal yang
sangat penting untuk kehidupan ini, dan jika sumber air yang dipakai adalah
sumber air yang tidak layak untuk dikonsumsi dan hitam pekat berbau. Lalu
apakah kita sebagai masyarakat harus terus diam dan menikmati indahnya air yang
pekat tersebut?
Ketika industri membuang limbah-limbah
kimia tekstil dan lainnya. Secara bersamaan atau sendiri, yang kemudian
melebihi baku mutu terutama saat kemarau, yang volume airnya otomatis akan
menurun drastis, limbah yang dibuang akan menjadi kental. Ini berarti menambah
beban sungai yang sudah berat untuk menetralkan pencemaran dan sungai pun akan
tercemar limbah yang sangat berlebih. Itu logika sederhananya.
“Beban
sungai sudah berat dampak dari pembuangan limbah industri,”
Salah
satu contoh yaitu banyaknya ikan mati, ikan sapu-sapu sebagai salah satu ikan
yang tahan dengan oksigen rendah. Umumnya ikan butuh oksigen minimal 2 mg/l, jika
ikan tersebut sampai banyak yang mati berarti kemungkinan besar oksigen di air
itu mencapai nol, atau bisa dikatakan sangat rendah oksigennya. Dan dugaan
lainnya yakni ada limbah yang mengandung racun atau terlampau panas sehingga
menyebabkan ikan stres sehingga banyak yang mati.
Sebenarnya
banyak cara yang bisa dilakukan untuk bisa mengantisipasi pencemaran air sungai
di daerah Karawang ini. Cara mengatasi
pencemaran air dapat dilakukan dari usaha pencegahan oleh masyarakat misalnya
dengan tidak membuang sampah ke sungai, mengurangi penggunaan detergen dan obat
kimia berbahaya seperti pestisida serta menggunakan air seperlunya saja. Tindakan
lain yang bisa dilakukan sebagai cara mengatasi pencemaran air juga bisa
membuat kolam stabilisasi untuk menetralisir zat pencemar secara alami sebelum
dialirkan ke sungai nantinya.
Kita juga bisa mencoba cara untuk mengatasi pencemaran air misalnya saja dengan menggunakan sabun cuci yang ramah lingkungan (detergen). Menjaga kualitas air sungai dengan tidak menjadikannya sebagai tempat mencuci, maupun sebagai tempat mandi dan buang air seperti yang masih banyak dilakukan di beberapa daerah Indonesia. Cara mengatasi pencemaran air sungai sekaligus mencegahnya, kita bisa berhenti melakukan eksploitasi dan mulai melakukan pemeliharaan seperti menanam banyak pohon di pinggirnya. Menurut beberapa sumber, pohon adalah pembersih sungai alami karena akarnya menyimpan air di dalam tanah yang berguna untuk pemeliharaan kualitas air yang baik. Lalu menjauhkan industri terlebih lagi tekstil dan kimia dengan sumber air (sungai). Caranya dengan mendirikan kawasan industri yang jauh dari sumber sehingga limbah industri bisa lebih terkontrol. jika pun demikian, harus ada baku standar yang harus diurus terlebih dahulu layak atau tidaknya.
DAFTAR PUSTAKA
Abramena.
2020. Air Sungai Tercemar, Aktivis Lingkungan Pertanyakan Program Citarum
Harum.https://m.liputan6.com/regional/read/4322438/air-sungai-tercemar-aktivis
lingkungan-pertanyakan-program-citarum-harum
Martha.
2020. Penyebab, Dampak dan Cara Mengatasi Pencemaran Air.
