Kuliah
Mengejar Nilai, atau Menjadi Bernilai?
Oleh Siti Patimah
“Ketika
kita berpikir jauh tentang bagaimana caranya untuk sukses maka kita butuh
kegagalan ribuan kali, dibanting, ditekan, ditimpa, barulah kita akan terbentuk,”
itu merupakan kata-kata motivator yang tidak asing lagi bagi kita. Tapi apakah
kita tahu sebenarnya bukan orang lain yang bisa merubah kita menjadi sukses dan
juga bahagia hanya karena pagi, siang, malam kita selalu diberi motivasi, tentu
saja diri sendiri yang harus berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu itu. Kecuali kalo punya orang dalam, itu mah beda
lagi ceritanya. Bener, kan? Wkwk.
Sekuat
apa kita menentukan progres dan tujuan hidup yang jelas, menurut para peneliti,
kesuksesan itu bisa dicapai. Jadi, kita akan bisa mengatur kapan kita harus
berlari, dan kapan kita harus berjalan santai. Untuk minum sebentar, karena
kita kehausan, haha.
Quarter
Life Crisis ini menjadi salah satu kebingungan
terhadap pilihan hidup. Menurut para peneliti psikologi QLC ini terjadi pada
usia-usia 20-30 tahunan. Ini juga menandakan bahwa kita sedang berada pada
ambang kebingungan krisis hidup seperempat abad antara emosional, duit,
keluarga, karir, minat, dan hal-hal lainnya. Misalnya mengejar sesuatu tapi tidak siap dengan resiko. Banyak
mimpi yang ingin tercapai, tapi tidak yakin dengan kemampuan diri sendiri.
Sehingga pada akhirnya, akan dihadapkan pada beberapa pilihan yang harus dipilih
dan inilah yang akhirnya menjadikan seseorang itu mengalami kebingungan untuk
menentukan jalan hidup yang akan ditempuhnya.
Bagi
sebagian orang, hidup itu dinikmati saja alurnya, biarkan berjalan dengan
sendiri. Tanpa disadari bahwa jika kita hanya mengikuti alur, kita tidak akan
pernah mencoba hal-hal lainnya dengan alur lain, yang mungkin bisa memperlihatkan
sebuah jalan lain untuk mencapai tujuan yang sama. Sama kek kita kesasar
karena si Google Maps, katanya sih belok kanan 50 meter lagi, dan kita sampe. eh
pas udah belok malah buntu. Atau kek lampu sein ibu-ibu starter pack, yang
nyala sein kiri, eh beloknya kanan. Haha.
Banyaknya
keinginan-keinginan yang akan dicapai, bisa membuat diri selalu gelisah. Harus
memilih apa, minat apa yang sebenarnya disukai, bagaimana caranya menjadi
sukses dengan jalan sendiri, dan masih banyak yang lainnya. Membuat para
mahasiswa kadang gundah, apakah sebenarnya jurusan yang dipilih ini sudah
sesuai dengan minat yang dimiliki, ataukah masuk jurusan ternama karena ingin
meningkatkan gaya hidup saja, dan hanya ingin mendapatkan gelar serta pekerjaan
yang menjanjikan.
Misalnya
dalam film yang berjudul 3 Idiot ini menceritakan adanya sebuah Quarter Life
Crisis, didalam dunia pendidikan pada jenjang perguruan tinggi tentang adanya
ketakutan-ketakutan, ambisi, mengejar nilai dan gelar sebagai tujuan utama berkuliah.
Ketidaksesuaian
antar minat dengan jurusan kuliah yang dipilih memang sering kali terkesan hal
yang sepele. Banyak yang beranggapan bahwa
nanti juga akan menyukai jurusan tersebut, setelah dikerjakan. Memang
ada benarnya dan juga ada dampaknya. Namun, tetap saja hal tersebut akan
memunculkan rasa takut, terkait tingkat kesuksesan yang diinginkan. Disinilah krisis
hidup seperempat abad bermunculan dan membuat adanya kebingungan baru terhadap
kehidupan mahasiswa tingkat awal hingga akhir. Gimana nih, apakah kita juga
sedang berada di zona ini?
Krisis
ini juga dipicu karena adanya keinginan dari faktor keluarga atau orangtua.
Seperti salah satu tokoh yang bernama Farhan. Ia terjebak kuliah dengan jurusan
Engineering (Teknik), yang sebenarnya ia engga minat dan engga mau
menjadi insinyur seperti yang Ayahnya inginkan. Namun hal itu yang membuat Ia harus
mengubur bakat yang dimiliki, yaitu pengen jadi seorang fotografer yang banyak
memotret hewan-hewan liar. Kata yang dipergunakan oleh Rancho juga menarik
yaitu,
“Bagaimana
bisa kamu menikahi mesin, sedangkan kamu mencintai fotografi.”
QLS
ini juga bisa dipicu karena adanya rasa ketakutan dan pikiran yang kacau. Seperti
tokoh Raju, Ia memang senang dengan dunia mesin, namun Ia dipenuhi ketakutan,
yang membuatnya terbebani oleh krisis hidup yang tengah dialami serta banyaknya
harapan-harapan yang harus diwujudkan. Hingga Ia pun merasa kesulitan untuk
mengeksplorasi lebih dalam dan maksimal, dan terlalu memikirkan hal-hal berlebihan,
meski ia punya passion yang sudah sesuai karena dia terlalu berambisi dengan
nilai.
“kamu
memang menyukai mesin, namun ketakutan-ketakutan yang ada pada diri lah yang
menjadi penghambatmu,” sekali lagi Racho membuat teman-teman terdiam.
Banyak
pula dari kita yang berkuliah karena tuntutan orangtua, tuntutan lingkungan,
dan hal-hal lainnya. Sehingga kita selalu menempatkan diri bahwa kuliah ini
harus diselesaikan dengan nilai yang bagus, untuk bisa mendapatkan karir yang
cemerlang. Yang pada kenyataannya kita haruslah menghargai setiap prosesnya,
nilai hanyalah sebuah angka, meski angka itu memanglah sering dianggap hal
utama. Ketika Farhan dan Raju memeroleh nilai akhir terendah, sistem seolah
membedakan tingkatan nilai tersebut, dan mereka duduk pada barisan kursi paling
belakang. Perbedaan tingkatan itulah yang sering dianggap, bahwa nilai memiliki
pengaruh besar terhadap apapun di dunia, sehingga lebih banyak orang yang
mengejar nilai, daripada melalui setiap proses pembentukannya.
Menjadikan
nilai sebagai tumpuan untuk mencapai kesuksesan, untuk menggapai impian, dan
itu yang memunculkan paradigma positivisme, yakni pandangan yang beranggapan
bahwa nilai adalah segalanya, dan sesuatu yang telah ada itu telah mendarah
daging hingga timbulnya pemikiran-pemikiran bahwa harus menjadi nomer satu,
karena jika berada dinomer dua, atau tiga, nama kita tidak akan dikenal.
“orang
yang belajar demi pengetahuan, bukan sekedar ijazah, adalah orang yang luar
biasa,” Rancho memberikan sebuah nasihat untuk kedua temannya.
Sebuah
kata menarik yang bisa membuka pandangan bahwa kuliah bukan sekedar untuk
mencari eksistensi dengan gelar yang sudah di dapat agar bisa menjadi modal
meraih kesuksesan. Kuliah tuh suatu tempat dan cara untuk kita ditempa,
sama-sama berjuang untuk bisa mengamalkan ilmu yang kita dapat nantinya, bukan
soal nilai atau gelar yang didapatkan. Namun seberguna apa ilmu yang telah kita
telah dapatkan.
Menurut
saya sih, gais. Kita tuh jangan belajar untuk menjadi sukses, tapi belajarlah
karena kita ini memang bodoh, wkwk.
Kalo
menurut kalian gimana, sih?
Selama
kita berkuliah, apa aja yang sudah dilakukan? Apakah kita sungguh dan
benar-benar kuliah atau masih bermain seperti bocil TK? Dan yang penting
mendapatkan gelar sarjana saja? Bukankah yang dilakukan ini adalah menjadi
faktor penentu kita nantinya, kebimbangan-kebimbangan itu muncul dari banyak sisi
dan kita lah yang membuat kebimbangan itu hadir.
“Allah
tidak akan mengubah suatu kaum, kalau kaum itu sendiri yang tidak mengubahnya.
(Q.S Ar-Ra’d:11)”
Kita
harus senantiasa berusaha dan perkuat dengan doa, sejalan dalam menempuh tujuan
dan pencapaian yang ingin diraih. Menuntut ilmu sungguh-sungguh, dengan tujuan
yang terarah, tidak hanya untuk mendapatkan gelar semata, atau sebagai sarana
menunjukkan bahwa kita ini hebat karena telah memiliki gelar di universitas
ternama. Karena itu semua tidak akan ada artinya, jika gelar diperoleh hanya
gelar kosong. Sekurang-kurangnya, ilmu yang udah didapatkan selama kuliah,
bisa diterapkan pas udah berumah tangga nantinya, hehe.
