Menyusun Gambar Dari Puisi Sapardi Djoko Damono

Alih wahana puisi Sapardi Djoko Damono menjadi cerpen

 

Judul Puisi : Sehabis Suara Gemuruh

Penulis : Sapardi Djoko Damono

Buku : Antologi Puisi Hujan Bulan Juni

Sehabis Suara Gemuruh

Sehabis suara gemuruh itu yang tampak olehku hanyalah tubuhmu 

telanjang dengan rambut terurai mengapung dipermukaan air bening yang mengalir tenang

 – tak kausahut panggilanku.

(1973)


Kumpulkan dan susun gambar yang berkaitan dengan puisi yang dipilih!



Keterangan gambar :

1. Gemuruh datang, awan pun menghitam.

2. Lembayung sore.

3. Tewas mengapung di air.

4. Air kembali ke laut.

5. Kesedihan karena ditinggalkan.


Deskripsikan susunan gambar menjadi sebuah cerita :

Sehabis Suara Gemuruh
Siti Patimah

Sahut-sahut angin banyak berbisik pada karang di lautan, penggambaran kota di pagi itu begitu cerah, semilir angin tak sedikitpun hilang, dan ombak pun sangat tenang bertanda baik untuk segera bekerja. Orang-orang berlalu lalang dengan segala aktivitas dan kesibukan di tepi pantai. Di desa banyak yang bermata pencaharian sebagai nelayan, ya, karena desa itu sangat dekat dengan laut. Jadi tak perlu heran.

Namanya Danu, Ia seorang pemuda yang belum sempat menamatkan sekolah menengah pertama. Danu tinggal di desa Nelayan. Ia harus bekerja menghidupi orang tua yang serba kekurangan, karena Ayahnya sudah tak bisa mencari nafkah lagi setelah kejadian pelik beberapa tahun silam, Ibunya terkena penyakit stroke setelah tahu Ayah Danu yang sekaligus adalah suaminya hampir tewas. Danu menjalani hari-harinya penuh keringat bercampur air asin, Ia sudah sangat terbiasa seperti ini.

***

Danu telah bertumbuh menjadi pemuda dewasa. Umurnya sudah 24 tahun. meski umurnya bertambah, ia tetaplah Danu si lusuh hitam anak pantai. Hari itu ombak sangat besar, Danu harus menahan diri untuk mencari ikan, karena akan sangat berbahaya. Nelayan lainpun tidak melaut, hanya ada satu, dua orang saja yang tetap nekat.

Danu berjalan dan ia dapati seorang wanita tengah meratapi ombak yang tak wanita itu mengerti. "ah, wanita tuh ngapain di sana, saya yang nelayan saja tak berani ke laut karena ombak besar," Danu menggertakan kaki, berteriak kepada wanita itu. Wanita itu tetap terpaku. Yang ia lihat malah awan, bukan seorang lelaki yang tengah meneriakinya itu.

Danu tak mengerti mengapa wanita itu malah tetap membisu, akhirnya Danu menghampiri wanita itu, "Nona, sedang apa la kau? Mari pulang la Nona, ombak sedang besar, saya takut Nona terhantam ombak," Sialnya, wanita itu hanya melempar senyum pada Danu lantas pergi tanpa sepatah kata.

***

Sudah seminggu ini ombak tidak menentu, malam hari tenang, pagi hingga matahari terbenam ia mengganas. Seolah tak ingin ada yang melintasinya, seakan tak rela hasilnya dizarah manusia.

Nelayan pun merasa sudah tidak tahan lagi menahan gejolak ingin segera kembali menghasilkan rupiah meski nyawa mereka takkan bisa terbayar dengan nilai rupiah yang didapatnya, dan mereka pun kembali melaut.

***

Danu berpikir, apakah Ia harus melaut atau menetap dan mencari pekerjaan sampingan, toh, penghasilan melaut minggu lalu masih cukup untuk orang tua nya dan bisa untuk modal ia jualan gorengan kecil-kecilan. Danu akhirnya memutuskan untuk berjualan gorengan saja, firasatnya tidak enak dan saran orang tua pun demikian, tidak baik jika ia harus mengabaikannya.

***

Lagi-lagi, wanita itu ada di tepi laut dekat batu karang dengan ombak yang terus menggerus. Danu geram, wanita itu sangat misterius dan minggu lalu saja, Ia hanya tersenyum ketika Danu dekati ketepian, lalu, pergi berlari kecil tanpa tahu apa maksudnya. "Wanita itu gelagatnya seperti umur 4 tahun saja," Danu kembali menghampiri wanita itu, kali ini Danu tidak berteriak, tetapi langsung berjalan kearah wanita itu.

"Nona, sedang apa lagi kau disini? Tak baik, Nona, ombak semakin tak tentu!,"

Wanita itu tersenyum, dan kali ini Ia menjawab pertanyaan Danu.

"Saya sedang menunggu ajal disini, tempat ini akan menjadi tempat kunjungan terakhir. Beban hidup saya, akan lepas bersama desiran ombak yang menghantam raga. Kamu seharusnya pergi, sebelum belaian ombak besar menghantam orang-orang. Apakah kamu masih memiliki orang tua? Jika, ya, silakan selamat kan Mereka!," Wanita itu memasang muka datar tanpa setitik pengharapan lagi. Danu menggeleng-gelengkan kepala, dan menganggap wanita ini memiliki gangguan jiwa. Karena, memang diawal pertemuan saja, dia tak menjawab malah tersenyum. Danu kali ini yang meninggalkan wanita itu, dan berniat ingin mengembalikannya ke RSJ.

Danu termanggu, memikirkan perkataan wanita tersebut yang memiliki makna tersembunyi. Apakah benar yang wanita tadi katakan? Apakah Danu harus memindahkan orang tua nya ketempat yang lebih tinggi dan aman? Apakah ini akan jadi kenyataan? batin Danu terus bertentangan.

Lagi pula siapa dia? Tuhan? Wanita itu, kan, jiwanya terganggu. Tapi entah mengapa Danu malah berpikir bahwa yang wanita itu katakan bisa saja benar, karena gelombang ombak dan cuaca tak seperti biasanya, selama bertahun-tahun pun baru kali ini terjadi. Danu pun bergegas ke rumah dan segera mengajak orang tua nya untuk sementara pergi ke tempat tinggi di desa lain yang tidak dekat dekat laut.

Orang tua Danu pun tak banyak bicara, mungkin pikir mereka, ibu dan ayahnya ini akan Danu masukan ke panti jompo, karena selama ini sudah menyusahkan Danu.

***

Petir, kilatan di awan bergemuruh. Laut marah, laut mulai murka, mungkin bencana besar akan melanda desa. Bagaimana nasib para nelayan, Danu mengericit, Ia terbelalak melihat laut menggerutu meski tempatnya kini terlihat jauh, siapa yang menjamin laut itu tidak akan sampai ke sana. Danu pun tak berkedip hingga memikirkan, apakah laut akan menggampar hingga tempat yang ia injak sekarang. Danu melupakan sesuatu. Seseorang yang ia anggap gila, ya, wanita itu dan ada banyak seseorang yang ia lupakan, teman-teman yang bermata pencaharian sama seperti Danu pun, tidak ia beri tahu.

Bagaimana dengan wanita itu,” 

Berulang kali Dani mondar-mandir dengan pikirannya yang sudah kacau, karena melupakan jasa wanita itu, padahal wanita itu lah yang memberi jawaban atas semua ini, dan kini, apa wanita itu masih di sana? Tertelan ombak, ataukah Ia lebih dahulu lari karena telah mengetahui dari awal? dan bagaimana dengan semua orang-orang di desa yang pergi melaut pagi tadi, Danu bahkan hanya tergesa-gesa mementingkan keluarganya sendiri, Danu melupakan semua orang di sekitarnya.

***

Berita gencar di radio masa, orang-orang, maupun televisi. Seakan tiada turut berduka atas bencana yang menimpa desa, yang mereka potret hanyalah mayat-mayat yang terkulai dan bangunan-bangunan yang runtuh yang mereka taksir akan menghabiskan dana perbaikan 200 Triliun.

Saat air dipastikan tidak lagi menyelimuti desa, Danu bergegas mencari wanita yang ia anggap penolongnya. Namun, naas setelah dicari hingga penghujung daftar korban terakhir tak satupun wajah maupun perawakannya yang seperti wanita itu yang berkulit putih, tinggi semapai, berambut panjang dengan seuntai bando berwarna pink yang terakhir pagi Danu lihat.

Danu merintih, setelah Ia dapati teman-temannya tewas, yang bahkan ada sebagian tubuhnya yang seperti tercabik gerigi hiu, hinga ada pula yang sekujur badan sudah berwarna ungu pucat. Yang tersisa hanyalah Adi, teman Danu satu-satunya yang tidak melaut karena mengikuti pilihan Danu, dan bisa dihitung dengan jari siapa saja di desa itu yang selamat. Sebegitu dahsyatnya riak air menggerutu dengan gemuruhnya yang menggelegar, tak kenal mana karang dan mana orang untuk digerus dan dilahap.

***

Wanita itu berada mengapung di tepi karang dekat tempat ia berdiri kala itu dan setelah berkata kepada Danu. Wajah cantiknya dengan raut tersenyum, semuanya utuh, meski raganya sudah banyak menelan air dan Ia memang sudah tidak bernyawa lagi.

Danu melihatnya pertama terakhir ditempat itu, dan sekarang Danu pun harus menyaksikan ia terkulai tak berdetak ditempat yang sama.


Note: seseorang yang kamu anggap tidak penting, terkadang ingin sekali saja, didengarkan. :)


Post a Comment

Cookie Consent
Kami menyajikan Cookie di situs ini untuk menganalisis lalu lintas, mengingat preferensi Anda, dan mengoptimalkan pengalaman Anda.
Oops!
Sepertinya ada yang salah dengan koneksi internet Anda. Silakan sambungkan ke internet dan mulai menjelajah lagi.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.