Naskah drama suara 12
Prolog
Narator: Alkisah, di tengah kota metropolitan yang entah di mana 4 orang pengemis buta ialah, Togar, Ihsan, Nanang, dan Hilal, terduduk menunggu suara yang akan menentukan nasib mereka. Suara yang akan membuat mereka mendapatkan suatu keuntungan untuk mensejahterakan diri mereka. Dalam ruangan atau tidak mereka tidak tahu dikarenakan kondisi penglihatan mereka yang sama-sama terbatas (buta). Yang mereka tahu hanyalah suara bising kendaraan yang sudah tidak terdengar seperti tadi. Posisi mereka sekarang sedang duduk berbaris dengan pandangan lurus ke depan.
Adegan 1
Ihsan: Lama sekali, mengapa suara itu tidak terdengar lagi? (Ucap Ihsan yang sudah mulai gusar)
Togar: Mungkin kau tidak bisa mendengarnya (Jawab Togar dengan tenang)
Ihsan: Hei! Aku ini buta, bukan tuli! (Ucapnya dengan suara sedikit meninggi)
Togar: Memangnya aku bilang kau tuli? (Jawabnya lagi dengan tenang)
Ihsan: Mungkin.
Togar: Hah... Sudahlah, mungkin dia lupa dengan kita.
Ihsan: Lupa kau bilang? (Jawabnya dengan raut kecemasan)
Nanang: Ya, bisa jadi. Setelah ia menawarkan janji keselamatan dan kesejahteraan kita. Mungkin dia lupa dengan kita karena ia sedang menepati janji lainnya yang lebih penting dari janjinya kepada kita (Sambut Nanang dengan wajah datarnya)
Ihsan: Jika suara itu benar-benar meninggalkan kita tanpa kembali lagi. Kita harus bagaimana?
Togar: Mungkin mati atau mungkin tidak. (Jawab Togar dengan nada datar)
Hilal: hus ah, mana mungkin, tak mungkin suara tersebut berbuat demikian. Barangkali, ia harus memprioritaskan kita. Kita dalam keadaan yang sangat kasihan sekali, tidak tahu harus berbuat apa, tidak tahu sekitar kita, di mana, dan apa yang bisa kita makan lagi? (Ujar Hilal yang mulai cemas)
Ihsan: Wah... benar juga, dengan rasa lapar dan haus dahaga yang tinggi, nyamuk yang selalu mengambil darah kita setiap detiknya, sudah hampir sehari ia tak datang lagi. Tidak ada yang lebih kasihan dari kita, empat orang pengemis yang tidak bisa melihat.
Togar: Terserah, malas bertengkar dengan orang yang keras kepala.
Hilal: Ini bukan bertengkar, tetapi membicarakan bagaimana ada pihak yang sampai hati menyuruh kita menunggunya dalam keadaan parah semacam ini (ucapnya yang tak mau diam)
Togar: Ya sudah tak usah ditunggu kalau begitu, kembali saja mengemis di jalanan (Sambutnya berusaha memberi saran)
Hilal: Duh. Kalau saja aku dapat melihatmu, mau rasanya aku tinju moncongmu itu (Ucap Hilal yang mulai geram dengan posisi tangan kanan yang sudah terkepal karena kesal)
Togar: Hehehe...
Hilal: Ketawa lagi!
Togar: Habis, bagaimana lagi kawan. Menunggu inilah yang pasti, sementara kita memang tak bisa berbuat lain. Nasib orang menunggu, memang begitu. Apalagi kalau fisik kita jauh dari kata normal.
Nanang: Bagaimana sembari menunggu kedatangan suara itu lagi, kita mencari jalan keluar?
Hilal: Tapi jika kita beranjak dari posisi ini takutnya nanti suara itu kembali datang saat kita tidak ada. Dan, lagi-lagi ujungnya kita harus menunggu.
Ihsan: Iya benar juga perkataan Hilal. Mending kita menunggu saja kedatangan suara itu kembali. (Ucap Ihsan membenarkan perkataan Hilal)
Adegan 2
Narator: SEPI lagi, tetapi masing-masing dari mereka memasang telinga lebar-lebar, mana tahu suara tersebut menjelma, suara yang mengarahkan mereka untuk bergerak, menuju keselamatan. Dalam posisi duduk di atas tanah, selain menunggu suara itu, tak ada lagi yang mereka tahu tentang keadaan diri dan lingkungan mereka.
Hilal: Kenapa lama sekali ya... (Ujarnya yang seperti bertambah gusar)
Togar: Apakah pemiliki suara itu hanya halusinasi kita?
Hilal: Mana mungkin. Jelas-jelas kita mendengar suara itu dengan nyata. (Ucap Hilal tak mempercayai perkataan Togar)
Togar: Siapa yang tahu? Kita ini tidak dapat melihat apapun. Di tengah kondisi kita yang sekarang kelaparan serta kehausan. Mungkin saja itu hanya halusinasi.
Hilal: Kau sudah lupa? Selain itu kita juga diberi makanan dan minuman. Kalau menurutmu bagaimana, Nang?
Ihsan: Nanang, Nanang. Mengapa engkau tak bicara? (Ihsan berkomentar setelah cukup lama tak mendengar Nanang bersuara)
Nanang: *berdehem.
Ihsan: Engkau sakit?
Nanang: *Mendehem lagi.
Ihsan: Sudahlah kau tidur saja. Bila salah satu dari kita ada yang sakit, tentu akan semakin menambah kesulitan ini.
Hilal: Iya benar (Hilal ikut menanggapi)
Ihsan: Ah... (Mengeluh panjang)
Togar: Sekarang masih untung.
Ihsan: Masih untung kau bilang? Entah macam mana orang ini berpikir. Seperti ini masih dikatakan untung? Untung apanya? (Menjawab dengan nada suara yang sedikit meninggi)
Togar: Setidak-tidaknya ada yang kita tunggu. Ada sesuatu yang jelas kita tunggu, meski bukan wujud yang kita kenal sehari-hari. Hanya suara, ya hanya suara yang dengannya kita merasa lebih tenteram (Jawab Togar)
Ihsan: Duh... (Keluh Ihsan)
Togar: Bayangkan saja ketika kita kelaparan di jalanan, lebih dari dua hari tidak makan. Memang kita menunggu pemberian, tetapi yang kita tunggu itu tidak jelas. Kita menunggu, ada orang dermawan atau anggota DPR atau apa sajalah namanya yang menyelamatkan kita. Tetapi apa? (Jelasnya cukup panjang)
Tidak ada yang menanggapi perkataan Togar. Semuanya kembali hening.
Adegan 3
Narator: Suatu malam yang gelap tanpa bintang, tanpa cahaya, tiba tiba mereka mendengar suara. Suara itu mengatakan akan menyelamatkan mereka jika mereka mau berjalan mengikuti suara itu.
Tak ada keraguan sedikit pun, juga terhadap tenaga mereka yang sudah hampir mati kelaparan, tetapi masih diminta untuk tetap bergerak-berjalan pelan-pelan. Tapi pasti mereka menjangkau suatu tempat yang mungkin tidak di jalanan metropolitan, beberapa lama kemudian, mereka akhirnya sampai di tempat yang entah di mana. Sepakat mereka mengakui bahwa harapan hidup tentu jauh lebih besar di tempat itu, dibandingkan ketika mereka masih berada di jalanan. Mereka diberi makanan dan minuman enak, pun tidur di tempat yang nyaman sebagaimana lazimnya seorang pelayan hotel melayani tamunya, jelas ada sesuatu maksud dan tujuannya, tetapi semuanya tak memusingkan masalah tersebut.
Togar: Jelaslah suara itu memberikan kita harapan hidup lebih besar dibandingkan sebelumnya. Kemudian, ia meminta kita menunggunya agar harapan besar tersebut menjadi kenyataan. Ini masih beruntung namanya. Coba saja kalau suara itu tidak muncul, bisa-bisa kita mati kelaparan kemarin ( Jelasnya)
Ihsan: Tapi aku tak akan buat pekerjaan ini lagi. Cukuplah sudah (Katanya yang sudah mulai merasa menyerah).
Hilal: Benar, semoga saja suara tersebut membawa kita ke suatu tempat yang dapat membuat kita bertahan hidup tanpa mengemis (Ucapnya dengan penuh pengharapan)
Narator: Pernyataan Hilal tersebut mengambang begitu saja, sebab tak seorang pun di antara mereka yang memberi komentar, apakah mengiyakan atau menyanggah. Padahal, sejak lama mereka bekerja dalam satu tim, mengemis di mana-mana dengan meminta belas kasihan orang-orang.
Dengan berbagai cara, mereka selalu sukses menjalankan pekerjaan itu. Tapi untung tak dapat diraih, malang memang tak dapat ditolak, sudah sebulan terakhir jarang ada orang yang memberikan sedekah pada mereka. Cerita punya cerita, dalam kepayahan berhari-hari, tiba-tiba muncullah suara itu.
Sekitar 14 jam yang lalu...
Suara: Biar kutolong. Akan kuberikan kalian makanan, bila perlu seperpersen pendapatanku pun berikan kepada kalian sehingga kalian tidak perlu mengemis seperti ini. Asalkan kalian mau mendengarkanku dan mengikuti perintahku ke arah mana kalian harus berjalan (Ucapnya seperti memberi sebuah pengharapan besar)
Di tengah rasa haus, lapar, dan kebingungan. Empat sekawan mendengar sebuah suara misterius.
Hilal: Engkau? Siapa kau? (Tanyanya penasaran)
Togar: Yang paling penting sekarang ini adalah bagaimana kita dapat diselamatkan, tidak perlu mengetahui siapa pemilik suara itu (Ucap Togar tak peduli siapa pemilik suara itu)
Suara: Ayo, cermati dari mana arah suaraku. Walau dalam keadaan seperti itu, pandangan kalian masih bisa kalian arahkan ke pada suaraku dan dari mana arah datangnya suaraku, Ayo. Terus, terus ikuti aku, terus... (Ucapnya seperti menarik empat orang buta itu agar mengikuti arahan suara)
Gagasan ini ternyata diterima bulat-bulat oleh sekawanan lelaki tersebut. Terhadap diri sendiri pun, mata mereka masing-masing tak mampu berperan sebagai alat pemandang. Hanya hembusan napas mereka masing-masing yang memberi tanda keberadaan tubuh mereka selain segala yang mereka ingat terhadap tubuh mereka sendiri.
Adegan 4
Lanjut suara itu yang diikuti orang berempat tersebut tanpa begitu susah payah. Sampailah mereka pada suatu tempat yang bukan jalanan kota sebagai mana mereka rasakan, setidak-tidaknya tak lagi mereka mendengarkan bisingnya kendaraan lewat maupun orang-orang di sekitar. Ketika di pertengahan jalan empat sekawan diberhentikan oleh suara itu.
Suara: Tapi nanti dulu. Tunggu aku, tetaplah saling merapat, jangan berpencar. Aku akan datang lagi, membawakan kalian makanan lagi, setelah itu aku akan membuat kalian makmur, dan aku ada beberapa permintaan untuk kalian, tapi itu nanti. Tunggu. (Ucapan dari suara misterius yang kemudian pergi meninggalkan empat sekawan)
Nanang: Tunggu! Kau mau pergi ke mana? Tolong jangan tinggalkan kami. Kami benar-benar membutuhkanmu. (Ujar Nanang berteriak memohon pada suara misterius itu)
Ketika Nanang hendak berjalan sambil menjulur-julurkan tangannya ke depan mencari suara tadi, kakinya tak sengaja menyentuh sebuah kantung yang diyakini bahwa itu merupakan kantong keresek besar. Di dalamnya terdapat banyak makanan dan minuman botol.
Nanang: Hey... Tengoklah ini ada kantung keresek berisi makanan dan minuman (Tangannya sambil meraba-raba isi kantung keresek yang ditemukannya)
Ihsan: Heh, kau lupa kita semua ini buta (Ujar Ihsan yang berdiri di belakang Nanang dan menepuk bagian punggung Nanang)
Hilal: Sepertinya makanan itu diberikan oleh suara yang kita dengar tadi (Hilal beranggapan begitu)
Begitulah dan cuma itu ucapan yang terakhir mereka dengar dari suara misterius tadi, kepergian suara tersebut lama sekali dengan meninggalkan makanan dan minuman yang sudah habis tak tersisa. Hal ini membuat suasana hati empat sahabat itu menjadi kacau-balau. Keluhan dan saling bantah, tak dapat dihindarkan. Apalagi Ihsan dan Hilal yang hampir sama-sama emosional, terlebih disebabkan suasana yang tidak cukup untuk dilukiskan melalui kata-kata “amat tidak nyaman”. Upaya Togar yang coba bersikap arif terhadap peristiwa ini, sebaliknya mereka tanggapi sebagai orang tak jelas, tak memiliki rasa empati terhadap penderitaan sesama. Nanang yang hanya diam saja, mereka nilai serupa saja dengan perilaku Togar walau dalam bentuk pasif.
Ketika perbedaan tersebut hampir meledak menjadi adu jotos, terdengar suara meminta maaf.
Suara: Maaf membuat kalian menunggu hampir seharian, agak lama memang, sebab aku terpaksa menyelesaikan suatu masalah gawat (Suara misterius memberi penjelasan)
Ihsan: Tapi, kami lebih gawat lagi, menunggumu seperti tanpa ujung dalam keadaan yang benar-benar tak jelas (Jawab Ihsan dengan raut wajah tak percaya dengan perkataan suara misterius)
Togar: Sudah, tak usah diperbincangkan. Yang pasti, suara itu pasti membawa makanan yang sangat lezat lagi. Benar, kan? (Tanya Togar dengan berusaha menengahi)
Suara: Tak ada yang lebih gawat daripada penjual-belian suara yang kini terjadi pada diriku dan harus aku selesaikan tadi (Terdengar suara seperti berbisik langsung di telinga mereka masing-masing)
Setelah mendengar bisikan itu Nanang mencoba menggapai suara bisikan orang di telinganya itu. Namun, hampa. Seperti tidak ada orang, padahal ia mendengar dengan jelas suara bisikan tadi. Ia menjulur-julurkan tangannya ke segala arah. Alhasil, masih nihil, hanya udara yang kosong. Tidak ada orang yang berbisik tadi.
Nanang: Ha, benarkan? Dia ini bukan manusia, bukan manusia! (Nanang sontak berteriak)
Nanang: Tolong... tolong...(Lanjutnya dengan panik)
Narator: Kemudian Nanang segera menyeret kawan-kawannya untuk menghindar dari suara itu tanpa pikir panjang, sambil tak henti-henti berujar dengan setengah menjerit. Begitulah akhir cerita empat orang yang terdengar di kampung kami di tengah kota metropolitan. Sebelum mereka benar-benar siuman, belum lama berselang. Kami berusaha menolong mereka semampunya, sampai mereka kami hantar pulang ke kampung mereka sendiri di Pulau Padang. Bagaimana duduk perkara sebenarnya, tidak pula saya tahu. Nanang yang menuturkan kejadian ini, mulai dari awal sampai datang dan perginya suara tersebut kepada saya, tidak pula menceritakannya lebih rinci dari itu. Kelak kalau bertemu dia nanti, saya gali lagi cerita ini sampai tidak ada satu pun pertanyaan yang tersisa sehubungan dengannya, Insya Allah. Ya, begitu banyaknya pertanyaan, begitu banyaknya.
