Kamu: Cerita Fiksi

Kenangan bersamamu selalu menghantuiku. Bagaimana bisa aku melupakanmu, dan bagaimana kau melupakanku? sedangkan hati kita sedekat antara jantung dengan detaknya. Sedekat napas dengan saluran rindu. Aku bukanlah orang yang asing bagimu, disetiap kamu berlari, aku kelelahan mengejarmu, dan diakhir itu pula kau mengajari dan memberikanku semangat menjalani artinya hidup. Begitupun aku sebaliknya terhadapmu.

Tepat dihari itu, sekedar bertemu untuk mengantarkan pesanan yang kamu pesan padaku. "Cuy, kembaliannya buat kamu aja," Kamu berucap padaku kala itu. Aku mengiyakan begitu saja, lantas bergegas pergi menjauh darimu. Sehari, seminggu, sebulan, setahun, dua tahun, tiga tahun, ah rasanya aku ingin tetap bersamamu, menua bersamamu.

***

Lalu, akhirnya kita memang harus sama-sama merelakan. Kau harus merelakan aku, dan aku yang tak pernah bisa merelakanmu harus tertatih untuk bisa lupa, ya setidaknya aku bisa berpura-pura untuk lupa. Setelah kejadian itu, benar-benar membuatku tak bisa berbuat apa-apa lagi.

***

Aku mencintaimu bukan karena bentuk fisikmu atau bahkan materi. Aku memang mencintaimu. Sama seperti kau mencintai kekuranganku selama ini. Aku pun tak peduli bagaimana sikap burukmu, aku hanya meyakini sejauh apa kita saling menerima, disitulah letak cinta yang sempurna.

Satu kesalahan memang bisa meruntuhkan cinta yang kita bangun. Sulitnya kau mendapatkan aku dulu, dan sulitnya aku mempertahankanmu. Hati sedih dan menangis, aku ingin kau tetap menjadi seseorang yang ku kenal. Menadahkan harap dalam setiap doa untuk bisa disatukan.

Pada kali kesekian, berjanjilah untuk tidak melupakanku meski hidup kita harus jalani masing-masing. hadirmu memberiku ruang untuk aku mengerti kehidupan jalanan yang mengasyikan. Aku kini kecanduan menikmati indah dan rindangnya sebuah jalanan. Seperti saat melarikan diri atas semua kelelahan di kota. Kita punya banyak waktu untuk habiskan bersama, dari keluarnya sang surya hingga senja datang. Juga memberiku arti "aku ingin bersamamu, dan aku ingin fajar beserta senja menjadi bukti bahwa aku amat bahagia bisa mengenalmu."

***

Hehe lucunya, aku terus saja melihatmu dalam mimpi, sugestiku akanmu benar-benar belum berubah. Aku masih berharap padamu, padahal jelas-jelas banyak yang melerai.

Aku lelah jika terus mengenal cinta yang datang lalu pergi perlahan, dan kamu hadir bersama wajah baru, wajah yang amat asing bagiku dulu, tapi entah mengapa aku terpana, aku kagum akan sosokmu. Memperhatikanku dari jauh, hanya untuk memastikan aku aman hingga keesokan harinya. Kamu juga datang ketika orang-orang disekelilingku menjauh. Kamu berkata "gapapa, semua butuh proses, InsyaAllah masa depan kita bisa berwarna. Selagi kamu disisiku, akan ku buat kamu seperti ratu."

Aku harus bahagia melihatmu bahagia, aku senang kau telah mengajariku bagaimana bersikap yang baik meski aku bukan orang yang baik. Mengajariku arti menerima meski aku harus banyak kehilangan. Mengajariku arti cinta meski tak harus memiliki. Dan kamu, adalah bagian dari lembaran hidup yang selalu akan terkenang. 


*Sebuah cerita fiksi diantara pohon yang bergema dalam gua.


Post a Comment

Cookie Consent
Kami menyajikan Cookie di situs ini untuk menganalisis lalu lintas, mengingat preferensi Anda, dan mengoptimalkan pengalaman Anda.
Oops!
Sepertinya ada yang salah dengan koneksi internet Anda. Silakan sambungkan ke internet dan mulai menjelajah lagi.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.