Posts

JALAN PULANG SANG RANTING


---

Kabut pagi turun perlahan di lembah itu, membungkus pepohonan dalam warna abu-abu nan lembut. Di antara dingin yang samar jua udara yang lembab, seorang pemuda berjalan tanpa arah pasti. Bajunya kusam, matanya terlihat letih, tapi langkahnya tetap harus menjejak, seolah memang ada sesuatu yang sedang ia cari, mungkin itu sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata.

Ia berjalan sampai menemukan sebuah rumah kayu di tepian hutan. Rumah itu sunyi, hanya terdengar bunyi air menetes dari atapnya. Di berandanya duduk seorang lelaki tua, rambutnya seputih abu, tatapan matanya dalam dan teduh, seperti menyimpan banyak kisah yang belum sempat ia ceritakan.

“Selamat pagi, Pak,” sapa pemuda itu dengan sopan, suaranya serak karena haus dan lelah usai perjalanannya.

Pak Tua hanya menatap sebentar, lalu mengangguk perlahan. “Kau terlihat jauh dari rumah.”

Pemuda itu tersenyum hambar. “Aku memang sedang mencari jalan pulang. Tapi aku belum tahu ke mana harus pulang.”

Pak Tua tertawa kecil, “Kalau begitu, istirahatlah dulu di sini. Tapi sebelum itu, maukah kau menolongku satu hal?”

“Boleh sekali, Pak. Apa yang harus kulakukan?”

Sembari Pak Tua yang menatap ke arah hutan, ia berbinar mengatakan, “Bolehkah bawakan aku satu ranting saja. Dengan syarat kau hanya boleh mengambil satu, dan tak boleh menoleh ke belakang atau mengambil ranting lainnya setelah kau sudah mengambil satu ranting yang dipilih.” 

"Itu syarat agar kau bisa kembali."

Pemuda itu mengerutkan dahi, “Satu ranting saja? Lanjutnya, "Mengapa tidak boleh mengambil ranting lain kalau aku mungkin bisa menemukan yang lebih baik dari ranting yang telah kutemukan?"

Pak Tua tersenyum samar, matanya menatap jauh. “Kalau kau terus menoleh, dan terus mencari ranting lainnya, kau tak akan pernah benar-benar pulang.”

Tanpa banyak tanya lagi, pemuda itu melangkah menuju hutan dengan sebuah pertanyaan yang masih berputar.

---

Di dalam hutan, cahaya matahari hanya bisa menembus sela-sela daun seperti serpihan emas yang tersembunyi. Udara berbau tanah basah khasnya, suara burung terdengar dari kejauhan, mengiringi langkahnya yang kali ini pelan.

Beberapa langkah dari tepi hutan, ia menemukan ranting pertama: ranting kecil, tapi utuh, tidak patah. Ia berhenti, menatapnya cukup lama. “Mungkin ini cukup,” gumamnya. Tapi sesuatu di dalam dirinya juga berkata, ‘mungkin juga di depan ada yang lebih baik.’ tapi akhirnya ia mengambil ranting itu. Dengan banyak pertimbangan dalam benaknya.

Beberapa meter kemudian, ia melihat ranting lain — ranting yang lebih halus, lebih indah bentuknya. Ia menggigit kini bibir, menyesali pilihannya yang pertama. Tapi ia teringat pesan sang Pak Tua, “Tak boleh menoleh ke belakang.” Maka ia menahan keinginannya, melanjutkan perjalanan dengan langkah yang kali ini sedikit ragu.

Hutan itu seolah tak berujung. Setiap beberapa langkah, ada ranting yang lebih elok dari sebelumnya — ada yang lurus sempurna, ada yang berkilau karena embun pagi.

Ia mulai merasa gelisah, seolah setiap ranting adalah godaan kecil yang menguji hatinya: apakah ia bisa setia pada ranting pilihannya yang pertama?

Waktu berjalan. Matahari perlahan condong ke barat, dan kicau burung berganti dengan suara serangga. Di tengah perjalanan, pemuda itu mulai menyadari sesuatu.

Setiap kali ia menemukan ranting baru yang tampak lebih indah, ia selalu merasa menyesal — bukan karena rantingnya jelek, tapi karena hatinya mudah tergoda oleh bayangan tentang sesuatu yang lebih sempurna dari yang kini ada dalam genggamannya.

Ia berhenti sejenak di sebuah batu besar, memandang ranting yang sejak tadi ia genggam. “Entah mengapa, meski sederhana, aku merasa... ranting ini mengerti langkahku,” bisiknya. Ia tersenyum tipis, lalu melanjutkan perjalanan tanpa lagi menoleh ke kanan dan kiri.

---

Saat senja menampakkan wajah berwarna langit yang berubah jingga merona. Ia akhirnya tiba kembali di rumah tua itu. Pak Tua masih di beranda, menatap langit seolah waktu tak pernah menyentuhnya.

“Sudahkah kau menemukan ranting itu?” tanya Pak Tua perlahan.

Pemuda itu seolah mengiyakan, “Sudah, Pak. Tapi perjalanan ini... Ahh... aneh rasanya. Aku melihat banyak ranting yang lebih indah bahkan terlihat sangat indah, tapi aku tak sanggup meninggalkan yang pertama. Setelah dari awal ia kugenggam erat menapaki semua perjalanan di dalam hutan. Entah kenapa juga, ranting ini terasa seperti bagian dari langkahku sendiri.”

Pak Tua tersenyum menuturkan, “dan... itulah pelajaran yang ingin kuberikan padamu.”

Pemuda itu heran dan bertanya, "Pelajaran?”

“Ya, tentu saja. Ranting itu bukan sekadar kayu atau mungkin tak memiliki makna apapun, tapi itu cermin dari hatimu."

Lanjut Pak Tua memberi petuah,
"Saat kau terus mencari yang lebih sempurna, kau akan terus melangkah tanpa akhir atau kau mungkin hanya akan mencari yang 'sempurna' padahal sesuatu tak ada yg lebih sempurna selain hanya ada dalam imajinasimu—saat itulah perjalananmu mulai menemukan arah.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan,
“Begitu pula dalam mencari pendamping hidup, ataupun perjalanan dalam menyusuri hidup. Dunia ini sangatlah luas, Nak. Akan selalu ada yang tampak lebih elok, lebih cerdas, lebih memesona. Tapi seseorang yang berjalan bersamamu, menuntunmu melewati hutan penuh ragu, itulah yang sejatinya akan selalu kau butuhkan.”

Pemuda itu terbelalak terdiam cukup lama. Ia menatap ranting dalam genggaman tangannya, dan untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa ranting itu telah menemaninya sepanjang perjalanan: saat ia bingung, saat ia ragu, bahkan saat ia hampir menyerah untuk menemukan arah pulang. Mungkin pula ranting itu tak banyak berarti bagi dunia luar — tapi baginya, ranting itu telah menjadi bagian dari perjalanannya sendiri meskipun mungkin hanya sebentar.

---

Malam yang kini datang perlahan. Angin kembali membawa aroma tanah basah dan suara jangkrik yang bersahut-sahutan. Di beranda itu, di bawah cahaya rembulan, pemuda muda dan lelaki tua duduk berdampingan tanpa banyak bicara.

Dalam keheningan itu, pemuda itu berbisik, “Jadi, Pak... bukan tentang menemukan yang paling indah, tapi tentang siapa yang tetap berjalan bersamaku, ya?”

Pak Tua mengangguk lembut, “Benar, Nak. Cinta, seperti ranting itu, bukan soal rupa, tapi keteguhan. Ia tak selalu sempurna, tapi ia ada di tanganmu..." "Dan kau memilih untuk terus menggenggamnya atau melepaskannya juga itu akan menjadi pilihanmu.”

Pemuda itu tersenyum. Dalam benaknya kini terlintas ada sesuatu yang hangat menggentarkan dadanya — mungkin tentang arti yang baru ditemukan, atau mungkin awal dari jalan pulangnya sendiri.

---

Terangnya mentari pagi datang keesokan harinya, pemuda itu melangkah lagi, kali ini bukan untuk mencari seseorang, tapi untuk belajar bersama perjalanan yang ia genggam.

Satu ranting yang telah ada di tangannya, ibarat memiliki satu makna di hatinya.
"Bahwa terkadang, yang kita cari bukan tentang siapa yang paling elok rupanya, pintar perangainya, atau mungkin gemerlap hidupnya. Melainkan siapa yang bisa tetap bertahan, ketika dunia terus berubah, perjalanan sangat melelahkan bahkan tanpa arah, dan kehidupan yang terlalu banyak menguras akal sehat."

Post a Comment

Cookie Consent
Kami menyajikan Cookie di situs ini untuk menganalisis lalu lintas, mengingat preferensi Anda, dan mengoptimalkan pengalaman Anda.
Oops!
Sepertinya ada yang salah dengan koneksi internet Anda. Silakan sambungkan ke internet dan mulai menjelajah lagi.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.