Bayangan Mengajari Langit Menangis

Kehidupan, makna, sederhana

Jadi ceritanya dimulai ketika tak sengaja aku tersandung oleh bayanganku sendiri yang selalu lebih dulu tiba di setiap tujuan meski aku belum memutuskan hendak ke mana.

Tanah itu, tanah yang tidak pernah menolak hujan selalu membuka dada untuk tetes yang jatuh tergesa, seolah luka adalah pupuk dan kecewa adalah musim tanam yang wajib datang setiap tahun.

Aku berdiri di atasnya mencoba berakar padahal aku belum selesai menjadi biji. Orang bilang hidup itu naik turun tapi aku menemukan bahwa beberapa tangga justru dipasang miring dan anak-anaknya terbuat dari kata-kata yang lupa arti pulang.

Di kejauhan kubayangkan matahari yang sibuk menghapus genangan, sementara langit membantah bahwa ia pernah menangis.

Aku tertawa kecil dengan suara yang hampir tidak lulus sensor dunia karena siapa juga yang memberi izin pada hati untuk tetap lembut di tempat sekeras ini?

Tanah itu terus menelan air seakan ingin menumbuhkan sesuatu dariku yang bahkan aku sendiri tak yakin ada: mungkin sepasang sayap yang takut terbang atau rumah yang tak ingin menetap.

Aku terus berjalan sambil membawa hujan yang enggan berhenti di pundakku berharap suatu hari nanti hidup yang tidak pernah benar-benar berpihak sekali saja, menyetel arah angin lebih pelan agar aku sempat bernapas.


Post a Comment

Cookie Consent
Kami menyajikan Cookie di situs ini untuk menganalisis lalu lintas, mengingat preferensi Anda, dan mengoptimalkan pengalaman Anda.
Oops!
Sepertinya ada yang salah dengan koneksi internet Anda. Silakan sambungkan ke internet dan mulai menjelajah lagi.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.