Kadang orang-orang lupa bahwa selalu ada beberapa rumah tidak dibangun dari tembok, melainkan gema perintah yang memantul berkali-kali di dalam kepalanya.
Cerita ini mungkin saja tentang seseorang yang mencoba pulang setiap sore, berharap menemukan kehangatan namun justru mendapati pintu yang selalu dingin seperti marmer pemakaman.
Ia mengetuk pelan takut mengganggu, meskipun itu rumahnya sendiri. Dan di balik pintu, hanya ada kursi yang kehilangan pemilik serta kalender yang gemar sekali mencatat hari-hari buruk.
Rumah itu tetaplah menyimpan mata di setiap sudutnya. Tatapan yang menakar tentang seberapa pantas ia bernapas pada hari itu. Dinding-dinding menghafal seluruh salahnya lebih baik, daripada ia mengingat nama baiknya sendiri. Lampu ruang tengah yang menyatu dengan kamar kecilnya, berpendar seolah berkata, “Aku lebih tahu apa yang harus kau rasakan.”
Maka pulang pun berubah arti berkali-kali, bukan lagi tempat kembali melainkan tempat menghadapi yang tidak ingin ditemui. Ia duduk di kamarnya, ruang yang katanya aman tapi bantalnya selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan tajam tentang kenapa ia tidak pernah cukup bahkan untuk membuatnya terlelap pun rasanya sangat sulit.
Suatu malam, angin masuk lewat celah jendela kayu kecil itu, dengan membawa kabar dari luar, bahwa ada daratan lain, tempat orang-orang menumbuhkan sayap dari semua retakan mereka, dan bukan menutupnya dengan rasa bersalah terus-menerus.
Ia menatap langit-langit yang diam tapi sedikit menghakimi dan bertanya dalam hati, “Jika rumah adalah luka yang diberi nama cinta, kemana harus aku pulang?”
Tak ada jawaban, kecuali suara napasnya singkatnya sendiri yang masih bertahan, meski dunia yang dianggapnya sangat indah dan rumah yang dianggapnya paling nyaman selalu berebut menyakitinya, seolah mereka sepakat, bahwa aman adalah hak yang terlalu mahal untuk seorang seperti dirinya.
