Seorang gadis kecil yang selalu membawa hari-hari lebih berat dari yang lain, padahal ranselnya tampak sepi, hanya terisi detik-detik penghabisan yang tak pernah diminta.
Ia menaruh seluruh dirinya, luruh... Di meja tamu yang bahkan tidak sedang menunggu tamu. Seperti lilin yang menyala terlalu terang, hingga lupa bahwa nyala itu juga akan memendekkannya perlahan.
Ketika menatap mata yang dicintai, ia tidak melihat dirinya kembali, melainkan pantulan seluruh alasan untuk bertahan lebih lama, yang kemudian redup, lalu hilang begitu lampu dimatikan. Ia tertawa lebih keras agar suara patahnya tidak terdengar oleh siapa-siapa. Ia menunggu lebih lama meski tak ada janji yang perlu ditunggu. Ia meraba setiap perubahan kecil yang orang lain sebut 'angin lewat'.
Dalam kisah yang selalu tampak tidak adil, orang seperti dirinya selalu memilih untuk tidak mundur meski tanah sudah berubah jadi rawa berlumpur yang menelan langkah dan menyisakan jejak yang tak pernah bisa untuk sekadar dibaca 'pulang'. Diam-diam ia mengerti bahwa yang memberi paling banyak, justru sering 'pulang' paling kosong. Yang tetap tinggal meski pintunya terbuka ke segala arah adalah yang paling sering kehilangan arah.
Tapi ia masih saja menjaga nyala itu meski cahaya hanya kembali setengah jalan, seolah kemenangan hidup bukan berada di pihak paling kuat, melainkan pada yang tetap memilih untuk tidak berubah menjadi dingin.
